Cetuskan Resolusi Jihad Lawan Kapitalisme, Diruwat Seni Barongan

Kaum muda Nahdlatul Ulama yang tergabung dalam Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) mencetuskan resolusi jihad, melawan pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang merusak, di Kampus Universitas Hasyim Asyari (Unhasy), Tebuireng, Jombang, Minggu (8/12/2013).

Yang menarik, usai acara pembacaan resolusi tersebut, digelar ritual ruwatan dengan pentas kesenian Barongan atau Singo Barong dari Pati Jawa Tengah.

Acara melibatkan sekitar 100 aktivis, dari sejumlah daerah pertambangan migas, bahan semen, dan batubara yang hingga sekarang terus bermasalah. Diantaranya dari Kebumen, Pati, Rembang (Jateng).

Kemudian Samarinda, Blitar, Tuban, Mojokerto, Banyuwangi, Jogjakarta, Porong, Bojonegoro, Cirebon, Wonogiri, dan dari Jombang sendiri. Acara diawali dengan pembacaan sejumlah persoalan pertambangan oleh perwakilan aktivis wilayah masing-masing.

Selanjutnya, koordinator FNKSDA, Ubaidillah membacakan resolusi jihad jilid 2. Ada lima poin dalam resolusi tersebut. Yakni pertama, menuntut pemerintah menghentikan usaha-usaha kapitalis ekstraktif yang membahayakan kedaulatan.

Kedua, menuntut PBNU memerintahkan perjuangan “fi sabilillah” guna merebut penguasaan sumber daya alam demi tegaknya kedaulatan Republik Indonesia Merdeka dan agama Islam.

Kemudian poin nomor tiga, menyerukan kepada semua warga nahdliyin dan umat islam untuk mempertahankan tanah air dari rongrongan kapitalisme ekstraktif dengan merebut dan menasionalisasi penguasaan SDA.

Keempat, menuntut pemerintah membatalkan, mencabut, menolak semua kontrak/izin pengelolaan SDA yang merusak daya hidup masyarakat, lingkungan, dan tak sesuai kebutuhan nasional. “Dan terakhir, menuntut pemerintah mengembangkan dan memajukan energi terbarukan,” tandas Ubaidillah.

Usai itu, diiringi musik dari pengeras suara, seorang seniman barongan tampil bertelanjang dada di halaman. Dengan mengenakan topeng kepala harimau, lelaki kekar ini memainkan tarian khas seni barongan.

Dalam seni barongan khas Pati, dia adalah tokoh sentralnya, bernama Gembong Kamijaya alias Singo Barong. Lelaki ‘mirip’ harimau ini dikisahkan memiliki kesaktian luar biasa, sehingga oleh Prabu Brawijaya dari Majapahit diserahi menjaga hutan Lodoyo dan makan apapun dari sana.

Sayangnya, dalam menjaga hutan dia kebablasan. Hewan dan tumbuhan yang berguna bagi petani pun dimangsanya. Beruntung ada tokoh bernama Tembem dan Penthul yang berhasil mengalahkan Singobarong. Singobarong berjanji hanya makan dan minum dari hutan secukupnya.

Aan Anshori, FNKSDA Jombang mengungkapkan, ruwatan bumi sebagai simbol dan harapan agar bumi pertiwi tetap subur dan bisa memberikan kesejahteraan kepada warganya.

“Bukan sebaliknya, mencelakakan dan menyengsarakan, akibat eksploitasi yang tidak manusiawi terhadap sumber-sumber energi dan sumber kehidupan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing, maupun pemilik kapital dalam negeri,” kata Aan.

 

sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *