Protes Pembangunan Hotel di Yogya Menguat

Berita Utama-Jateng
Kamis, 23 Oktober 2014 (Koran Tempo)
Protes Pembangunan Hotel di Yogya Menguat

YOGYAKARTA – Protes terhadap maraknya pembangunan hotel di Yogyakarta
terus menguat. Kali ini kelompok yang menamakan diri Front Nahdliyin
untuk Kedaulatan Sember Daya Alam mendesak pemerintah Daerah Istimewa
Yogyakarta turun tangan dan menghentikan pembangunan hotel dan
apartemen. “Karena tak ada data sains yang cukup tentang kondisi air
tanah (di Yogyakarta),” kata Kepala Biro Penelitian Front Nahdliyin
Bosman Batubara kepada Tempo, kemarin.

Mereka khawatir pembangunan hotel, apartemen, dan mal yang terus
berlangsung akan menambah tekanan pada ketersediaan air dan ekosistem
akuatik di sekitar Yogya. “Dengan populasi warga yang juga terus
tumbuh, kebutuhan pokok terhadap air pun kian meningkat,” ujarnya.

Awal Oktober lalu, kelompok seniman Yogyakarta memprotes maraknya
pembangunan hotel dengan tema “Jogja Asat”. Gerakan itu didasari
kekhawatiran banyaknya sumur warga di sekitar hotel yang kering
gara-gara pengambilan air tanah oleh pengelola hotel.

Peneliti Pusat Studi Manajemen Bencana Universitas Pembangunan
Nasional Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mengatakan permukaan air
tanah di Yogyakarta yang terus menurun tiap tahun berada pada kondisi
“lampu merah”. “Ini peringatan bagi semua pihak,” katanya, kemarin.

Menurut Eko, permukaan air tanah terus menurun 15-50 sentimeter per
tahun berdasarkan risetnya pada 2006-2011. Pada tahun berikutnya,
kondisi itu tak membaik seiring masifnya pembangunan hotel di
Yogyakarta. Menurunnya permukaan air tanah berdampak pada jumlah
ketersediaan air milik masyarakat.

Dia menuding sejumlah hotel belum punya manajemen air sehingga
mengganggu ketersediaan air di sumur penduduk. Hotel menyedot air
dengan cara mengebor yang sedotan airnya “mencuri” air sumur di
sekitarnya. Dalam hitungan Eko, konsumsi air hotel untuk satu orang
yang menginap di hotel dengan fasilitas bath up setidaknya memakai 250
liter air. Sedangkan satu orang tamu di hotel non-bintang memakai 125
liter.

Tapi Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia DIY Istidjab
Danunagoro menyatakan pengusaha hotel tak bisa sepenuhnya mengandalkan
pasokan air dari perusahaan air minum daerah. Jadi, hotel mengambil
air sumur dalam. Dia membantah anggapan bahwa pengeboran ini
mengganggu sumur dangkal milik warga di sekitar hotel. “Sesuai aturan
pengambilan air harus air sumur dalam berukuran 40-60 meter,” kata
Istijab, kemarin.

Dia mengaku pengambilan air sumur dalam itu telah dilaporkan ke
pemerintah lewat laporan bukti meteran penggunaan air. Istijab
berharap pemerintah DIY mengupayakan ketersediaan air dengan
memanfaatkan sumber air dari Kali Progo untuk mencukupi kebutuhan
penduduk Yogyakarta. ANANG ZAKARIA | SHINTA MAHARANI | RAIHUL FADJRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *