Sekolah Riset Agraria “Cirebon”

img 20190116 wa0031

Konflik agraria dan sumber daya alam di Indonesia, khususnya di Jawa semakin bermunculan di hampir berbagai wilayah pedesaan. Jika melihat data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) di tahun 2017, konflik agraria tercatat ada 659 konflik yang terjadi. Di sektor perkebunan melibatkan lahan dengan luasan 194. 453 hektare. Di sektor pesisir dan pertanian serta properti masing-masing jika ditotal terdapat cakupan lahan dengan luasan 90.320 hektar.

Jika dilihat di wilayah Jawa, konflik agraria terbesar terjadi di Jawa Timur dengan jumlah 66 konflik. Kemudian di Jawa Barat dengan jumlah 55 konflik. Lebih spesifik lagi, di 3 wilayah Cirebon konflik-konflik agraria semakin terlihat bermunculan hampir di berbagai sektor. Baik dalam sektor pertanian, perkebunan, kehutanan dan pesisir.

Di Kabupaten Kuningan misalnya, wilayah tersebut mengalami penguasaan sumberdaya hutan melalui kebijakan pemerintah dan aktor-aktor utama yang mendorong perubahan kebijakan kehutanan. Kemudian di Cirebon Timur, tepatnya di kecamatan Losari akan dijadikan objek pembangunan industri ekstraktif. Artinya, di wilayah tersebut akan terjadi konflik-konflik agraria yang mengancam ruang hidup masyarakat yang hidup di sekitar pesisir. Terutama ancaman penggusuran lahan-lahan pertambakan yang akan menjadi sasaran dari rencana pembangunan industri dan pelabuhan.

Perusakan ruang hidup masyarakatpun sudah lama terjadi di Cirebon bagian Barat seiring masih beraktifitasnya kegiatan industri Semen Indonesia. Tepatnya berada di Kecamatan Palimanan dan Gempol. Dua wilayah tersebut yang mendapatkan dampak lingkungan dan krisis air dari aktifitas pabrik yang sudah berpuluh-puluh tahun ada. Dan jika dilihat dari atas permukaan maka akan tampak gunung-gunung yang gundul karena dibom dan dikeruk habis-habisan untuk diambil batu kapurnya demi pasokan bahan mentah pembuatan Semen.

Beberapa bulan yang lalu, sebagian kader komunitas Saung Daulat Amparjati (SDA) dan Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Cirebon telah melakukan kajian lapangan di beberapa desa di Kabupaten Kuningan. Meskipun tidak terlalu lama, namun hasil kajian kader-kader SDA sedikit memberikan gambaran tentang permasalahan konflik agraraia terutama di sektor kehutanan yang sedang mengalami proses privatisasi melalui skema “konservasi.”

Dalam hal ini wujud dari program konservasi tersebut adalah Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).Di mana kenyataan yang terjadi di lapangan bahwa program tersebut telah mengakibatkan terusirnya masyarakat dari sumber-sumber ekonominya yang ada di hutan. Lebih jauh lagi, penanaman satwa monyet ke dalam kawasan TNGC oleh pihak-pihak Balai Taman Nasional telah memberikan hama baru bagi aktivitas perkebunan dan pertanian masyarakat sekitar kawasan hutan.

Namun skema-skema dan proses-proses pemisahan masyarakat atas sumber agrarianya perlu digali lebih jauh lagi demi mendapatkan pemahaman duduk masalah yang menyeluruh. Sehingga agenda-agenda perjuangan bisa lebih kritis dan menyentuh akar masalah yang sebenarnya.

Melihat berbagai gelombang ekspansi kapital yang sudah masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Kuningan dan Cirebon, salah satu upaya yang hendak dilakukan dalam memperkuat basis-basis perjuangan di wilayah pedesaan oleh Komunitas SDA bersama FNKSDA Cirebon dan Centre for the Study of Philoshopy and Cirebon (CSPC), dalam hal ini akan mengadakan “Sekolah Riset Agraria” di beberapa desa di Kuningan dan Cirebon.

Kegiatan ini dilandasi atas kesadaran akan pentingnya pemahaman mendalam tentang duduk masalah yang ada di lapangan. Baik dalam memahami cerita perubahan material wilayah yang menjadi lokasi medan belajar, membaca bagaimana relasi-relasi sosial-ekonomi yang terikat di dalamnya, bagaimana kontradiksi kepentingan antar kelompok yang berbeda-beda, menganalisis bagaimana pengaruh intervensi dari pemerintah dan lembaga-lembaga yang terhubung di setiap daerah medan belajar, dan mempelajari pengetahuan lokal yang masih relevan untuk dikembangkan.

Pola-pola perubahan wujud perputaran modal tentu tidak bisa hanya dipahami dengan kacamata kosong, tetapi perlu melalui proses kajian ilmiah terlebih dahulu untuk mendapatkan pemahaman menyeluruh dalam menemukan jejak krisis agraria sehingga terurai dengan logis dan bisa direfleksikan oleh masyarakat secara umum.

Kemudian kegiatan ini tentu diharapkan menemukan alternatif yang tepat dalam membalikkan krisis agraria dan mendorong setiap elemen untuk melakukan perbaikan hidup ke arah sosial-ekonomi yang lebih adil.

Timeline Kegiatan

  • Pendaftaran

15-29 Januari 2019

  • Technical Meeting

30 Januari 2019, pada pukul 09.00 WIB- Selesai. Bertempat di Kampus IAIN Syech Nurjati, Cirebon.

  • Acara

Workshop Medologi Studi Agraria dan Persiapan Teknis Riset.

Narahubung untuk Registrasi:
083875592433 (Shela)
089669058287 (Mufid)
089664424284 (Fiqron)

*Notes: untuk peserta luar kota harap datang paling lambat tanggal 29 Januari 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *