Selamat Datang 7 Investor [!]: Membaca Rezim Neo-Liberalisme d[ar]i Sumenep

FNKSDA Sumenep

Landasan Pemikiran Landasan Pemikiran Dua pekan yang lalu, Senin, 19 Maret 2018, Bupati Sumenep, Dr. KH. A. Busyro Karim, M. Si., dengan  bangga menyampaikan bahwa sebentar lagi Sumenep akan menyambut 7 investor. Pada pembukaan Musrembang Kab. Sumenep di pendopo Keraton waktu itu, dalam sambutannya, ia mengaku telah tanda tangan di hadapan Wapres RI dan Mentri terkait, menyangkut 7 investor tersebut. Adapun 7 investor kakap yang sudah siap “turun gunung” ke tanah Sumekar ini, diantaranya: PT Tranmina Laut, PT. Prinus, PT. Perindo, PT. Artha Graha, Peduli Forum Petani, Pengepul Jagung Nusantara dan PT. Corpora Putra. Ya, karpet merah menyambut 7 investor kakap itu, kini telah mulai digelar oleh Pemkab.

Kita mungkin bisa bertanya: apa yang bisa kita harapkan dari korporasi dan pemodal? Terutama 7 investor yang dalam waktu dekat ini akan didatangkan oleh Bupati?! Karena kita harus jujur bahwa selama ini, terdapat relasi yang terang antara semakin banyaknya industri dan korporasi di Semenep dengan maraknya “perampasan” lahan dan ruang hidup rakyat, oleh para pemodal. Artinya, dua persoalan ini sangat berkait-kelindan. Kita bisa ilustrasikan dalam logaka timbal balik seperti berikut ini: semakin banyak korporasi melakukan privatisasi modal, makan secara otomatis angka ketimpangan juga akan semakin tinggi.

Dengan nada getir dan lirih, kita harus jujur, bahwa inilah Sumenep kita hari ini. Kabupaten yang diatur oleh sistem yang sangat feodal, sistem pemerintahan yang kapitalistik. Yang tidak lagi bergerak untuk mensejahterakan rakyat, tapi sebaliknya: menyokong ketimpangan rakyat dengan berafiliasi langsung dengan bandit-bandit rupiah/dolar. Inilah yang kita sebut rezim neo-liberalisme. Satu model pemerintahan yang bekerja sebagai  tangan-tangan(“-kotor”) para pemodal. Yang berkerja di bawah kuasa pabrik, korporasi dan industri besar, dengan menjadikan rakyat-rakyat kecil yang dianggap lugu, sebagai sapi perahan untuk menjadi buruh di negerinya sendiri. Di hadapan mereka semua, semuanya serba komersial dan masa bodoh dengan kemanusiaan.

Keadaan ini sebenarnya diam-diam telah berlangsung lama. Sejak awal di mana Jembatan Suramadu dulu pertamakali diresmikan. Jembatan tersebut tidak sekedar berarti alat transformasi, tetapi sekaligus menjadi penanda bahwa sejak itulah, Madura secara umum didudukkan di atas etalase pasar internasional. Detik-detik dimana seluruh SDA kita menjadi seperti “ikan-ikan” di pasar. Bisa ditawar dengan harga yang bebas. Siapa yang punya dolar/rupiah yang banyak, maka ia bisa membeli dan mejadi pemiliknya. “Ikan-ikan” itu kini sudah banyak hangus terjual. Sementara rakyat hanya bisa manampa dagu.

7 investor kakap yang sengaja didatangkan oleh pemkab ini, jelas akan semakin manambah penderitaan bumi Sumekar kedepan. Setelah migas sudah banyak dikuasai asing, oksigen terbaik di dunia juga diprivatisasi, lahan-lahan warga dikuasai pemodal, kita bisa mengamati, apalagi yang akan dirampas oleh 7 investor ini nanti?! Tepat dalam keadaan darurat inilah, diskusi publik ini dilakukan. Karena kami sadar kedepan tantangan Sumenep justru akan tambah besar. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang sudah sangat neollib, yang tak lagi berpihak terhadap eksistensi rakyat-rakyat kecil, tak bisa lagi kita diamkan begitu saja.

Untuk itulah, diskusi publik ini sengaja digagas dan diproyeksikan untuk memulai merakit kembali spirit-spirit perlawanan terhadap rezim neo-libera di Sumenep ini.

TUJUAN
1. Mengidentifikasi 7 investor kakap yang akan segara datang ke Sumenep sebagai gejala konkret rezim neo-liberal yang terejawantahkan dalam sistem dan watak birokrasi Sumenep.
2. Memikirkan Sumenep dalam konteks ekomomi-politik global, untuk menyegarkan sikap-ideologis FKNSDA Sumenep dalam merakit(-kembali) gerakan-gerakan perlawanan terhadap berbagai kebijakan rezim birokrasi—nasional,  regional, lokal—neo-liberal.
3. Merumuskan gerakan ideologis peduli SDA sebagai orientasi-progresif dalam membangun Sumenep kedepan.

BENTUK KEGIATAN DAN METODOLOGI
Kegiatan ini akan berlangsung dalam dua sesi sekaligus. Pertama, yaitu sesi diskusi publik. Diskusi ini akan membedah tema besar—sebagaimana di landasan pemikiran di atas—melalui pemjabaran materi oleh narasumber. Dan yang kedua, sesi Rapat Tindak Lanjut. Dalam sesi ini, peserta akan berusaha dikonsolidir untuk merumuskan gerakan FNKSDA Sumenep ke depan.

NARASUMBER, FASILITATOR DAN PESERTA
– Ahmad Razuqi (Pakar Studi Ekopol)
– Moh. Roychan Fajar (Koord. FNKSDA Sumenep)
– Ongky Arista Ujang (Pegiat FNKSDA Sumenep)
– Peserta yang terdiri dari sekitar 50 pemuda yang berasal dari berbagai kampus.

WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN
Hari : Kamis
Pukul : 09.00 s/d. 12.00 WIB (Diskusi) & 13.00 s/d. 14.00 (RTL)
Tempat : Gedung PC. NU Sumenep

PELAKSANA KEGIATAN
Kegiatan ini dilakanakan oleh, Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Sumenep.

ANGGARAN
Kegiatan ini digelar melalui dana secara swadaya. Yang dipungut berdasarkan kerelaan masing-masing peserta dan pegiat FNKSDA Sumenep untuk menyumbangkan dana sekecil Rp. 15.000.

PENUTUP
Demikianlah Term of Refference (ToR) ini dibuat, kurang dan lebihnya kami sampaikan permohonan maaf tiada tara.

Ttd.
Moh. Roychan Fajar (Koord. FNKSDA Sumenep)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *