Catatan Tentang Situasi Ekonomi Global Pra-Wabah Corona

Mohamad Zaki Hussein (Partai Rakyat Pekerja)

Ini merupakan catatan yang saya buat pada akhir 2019. Berdasarkan catatan ini, krisis ekonomi global secara parsial sudah terjadi bahkan sebelum wabah corona dimulai. Wabah corona hanya mempercepat, memperdalam dan memperparahnya.

Pelambatan Ekonomi Global dan Ancaman Resesi 2020

Pasca krisis besar tahun 2009, rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia selama 2010-2018 adalah 3,8. Sementara 9 tahun sebelum krisis besar 2009, yakni 2000-2008, rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia adalah 4,3. Artinya, tingkat pertumbuhan global setelah krisis 2009 tidak pernah kembali sampai ke angka sebelumnya.

93541720 10217728709911699 7108244524979191808 n

Belum ada data pasca fakta (post-factum) untuk pertumbuhan global di tahun 2019, karena tahun 2019 belum berakhir. IMF dalam World Economic Outlook bulan Oktober 2019, memperkirakan pertumbuhan global di tahun 2019 akan sekitar 3,0 dan memaknainya sebagai pertumbuhan yang lemah.[1] Perkiraan angka tahun 2019 ini adalah angka yang terendah sejak krisis besar 2009.

Sebagian pihak memperkirakan ancaman resesi global di tahun 2020. IMF sendiri, meski mengakui pertumbuhan global belakangan ini lemah, masih “optimis” pertumbuhan global akan naik menjadi 3,4 pada 2020 dan 3,6 pada 2024. Tapi, perkiraan IMF ini perlu disikapi dengan hati-hati, karena mereka cenderung melakukan over-estimasi.[2]

Adapun pihak yang memperkirakan ancaman resesi global salah satunya adalah Konferensi PBB mengenai Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD). Dalam laporannya yang dikeluarkan pada September 2019, dengan mempertimbangkan pelambatan ekonomi yang ada dan kerentanan lainnya, seperti tingkat utang global yang tinggi, mereka memperkirakan ancaman resesi global pada 2020.[3]

Resesi Global di Sektor Manufaktur Sudah dan Sedang Terjadi

Ancaman resesi global yang diperkirakan UNCTAD sepertinya tidak berlebihan. Meski resesi yang mendalam belum terjadi, tapi resesi global secara parsial sudah dan sedang terjadi. Ekonom Marxis Michael Roberts menunjukkan bahwa sejak Oktober 2019 lalu, sudah terjadi resesi global di sektor manufaktur. Untuk menunjukkan resesi tersebut, Roberts menggunakan data-data Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index disingkat PMI) manufaktur negara-negara G-7 atau yang ekonominya termaju (menurut IMF).[4]

PMI adalah indeks yang merangkum kondisi bisnis sebagaimana dilihat oleh para manajer pembelian, apakah mengembang/ekspansif atau menyusut/kontraksi. Memasuki Oktober 2019, indeks PMI manufaktur dari sebagian besar negara G-7 sudah berada di bawah angka 50, yang merupakan ambang batas antara ekspansi dan kontraksi.
Penyusutan atau kontraksi aktivitas manufaktur, menurut Roberts, tidak hanya terjadi di negara-negara G-7. Negara-negara berikut juga mengalaminya: Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Polandia, Rusia, Singapura, Afrika Selatan, Korea Selatan, Swedia, Swiss, Turki, dan Taiwan.

Resesi global ini memang baru terjadi di sektor manufaktur, belum di sektor lainnya. PMI sektor jasa negara-negara G-20, misalnya, masih berada di atas angka 50. Tapi ini bukan berarti resesi di sektor manufaktur tidak bisa merembet ke sektor lain. Banyak operasi sektor jasa, seperti retail, yang bergantung pada sektor manufaktur, sehingga resesi di sektor manufaktur juga bisa berdampak pada sektor jasa.

Utang Global dan Risiko Kredit Macet yang Tinggi

Salah satu faktor yang juga membuat ekonomi dunia sekarang sangat rentan dengan krisis adalah tingginya tingkat utang. Untuk itu, kita akan melihat data rasio utang terhadap PDB. Produk Domestik Bruto atau PDB adalah nilai seluruh barang dan jasa yang diproduksi di suatu negeri. Artinya, kalau jumlah utang suatu negeri sudah di atas 100% PDB-nya, maka seluruh hasil produksi di negeri itu tidak cukup lagi untuk membayar utang yang ada.

Data utang di bawah ini terdiri dari utang pemerintah secara umum dan utang privat. Karena data global tidak tersedia, maka penulis akan menampilkan data 7 negara yang PDB-nya (berdasarkan harga berlaku) saat ini terbesar di dunia, yaitu AS, Cina, Jepang, Jerman, India, Inggris dan Prancis. Pada 2018, PDB ke-7 negara ini membentuk 60,28% dari PDB dunia.[5]

93788341 10217728785753595 3158807764554219520 n

Dalam grafik 2, kita bisa lihat bahwa rasio utang pemerintah ke PDB dari sebagian besar negara dengan ekonomi terbesar di dunia ini cenderung meningkat—pengecualiannya adalah India dan Jerman. Lalu, hampir semuanya, kecuali Cina, utang pemerintahnya sejak tahun 2009 sudah di atas 50% dari PDB mereka. Adapun utang pemerintah Jepang (sejak tahun 2000) dan Amerika (sejak tahun 2012) sudah berada di atas 100% dari PDB mereka. Secara umum, gambaran utang pemerintah dari ke-7 negara ini cukup mengkhawatirkan.

93621382 10217728801593991 9071477451825086464 n

Data utang privat (non-pemerintah) dalam grafik 3 mencakup utang perusahaan di sektor non-finansial dan utang rumah tangga. Instrumen utang yang dicakup dalam data di atas hanya dua yang pokok, yaitu pinjaman dan sekuritas utang. Artinya, kalau instrumen lain dimasukkan, angkanya mungkin bisa lebih besar. Penulis memakai data di atas, karena data utang privat yang mencakup semua instrumen hanya ada untuk beberapa negara—data India dan Cina, misalnya tidak tersedia. Tapi, data di atas sudah cukup menggambarkan kondisi umum utang privat.

Kalau data rasio utang pemerintah terhadap PDB mengkhawatirkan, data utang privat jauh lebih mengerikan. Hampir semua negara di atas, kecuali India, jumlah utangnya sudah di atas 100% PDB-nya sejak tahun 2000. Artinya, hampir semua negara itu memiliki risiko tinggi “gagal bayar utang” (default) atau terkena krisis kredit macet. Dan karena ekonomi ke-7 negara itu membentuk lebih dari 50% ekonomi dunia, krisis di negara-negara tersebut bisa menjadi krisis global.

Selain itu, beban utang tinggi, jika terjadi di saat profitabilitas sektor riil (produksi barang dan jasa non-finansial) rendah, akan membuat pemodal enggan berinvestasi lebih banyak di sektor riil, sehingga ekonomi mengalami pelambatan. Michael Roberts menyatakan beban utang yang tinggi dan profitabilitas yang rendah inilah yang menyebabkan kapitalisme terus mengalami pelambatan—yang disebutnya “Depresi Panjang”—sejak krisis besar 2009.[6]

Catatan:
[1] Lihat IMF, World Economic Outlook: Global Manufacturing Downturn, Rising Trade Barriers, khususnya Tabel A1, hlm. 147, https://www.imf.org/en/Publications/WEO/Issues/2019/10/01/world-economic-outlook-october-2019.
[2] Misalnya, dalam World Economic Outlook bulan Juli 2019, IMF memperkirakan pertumbuhan global akan berada di angka 3,2 untuk 2019 dan 3,5 untuk 2020. Kedua angka ini lalu mereka koreksi dalam World Economic Outlook bulan Oktober 2019 menjadi 3,0 untuk 2019 dan 3,4 untuk 2020. Lihat IMF, World Economic Outlook: Still Sluggish Global Growth, https://www.imf.org/en/Publications/WEO/Issues/2019/07/18/WEOupdateJuly2019.
[3] Lihat UNCTAD, Trade and Development Report 2019: Financing A Global Green New Deal, https://unctad.org/en/pages/PublicationWebflyer.aspx?publicationid=2526.
[4] Analisa Roberts beserta data-datanya bisa dilihat dalam Michael Roberts, “A global manufacturing recession,” dalam Michael Roberts Blog, https://thenextrecession.wordpress.com/2019/10/01/a-global-manufacturing-recession/.
[5] Penghitungan saya sendiri berdasarkan data IMF.
[6] Lihat Michael Roberts, “The global debt hangover,” dalam Michael Roberts Blog, https://thenextrecession.wordpress.com/2016/10/09/the-global-debt-hangover/.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *