Posisi Kaum Muda dalam Gerakan Lingkungan: Nonton Bareng Film ‘Samin vs Semen’ di Cirebon

Cirebon
Kaum muda Cirebon nonton bareng film “Samin vs Semen”. (Foto: Isom)

 

Perlawanan rakyat dalam mempertahankan alamnya dari kemarukan korporasi, beberapa diantaranya didokumentasikan dalam bentuk film. Salah satunya film Chico Mendez yang menceritakan perlawanan petani kebun karet di hutan Amazon Brazil. Gerakan perlawanan petani karet melahirkan banyak insiden kemanusian, mulai dari ancaman sampai pembunuhan tokoh gerakan bernama Chico Mendez sendiri.

Di Indonesia, nafas perlawanan masyarakat seperti itu juga dipotret dalam satu judul film dokumenter berjudul “Samin VS Semen”. Film ini bercerita tentang perjuangan para petani di kawasan Pegunungan Kendeng yang menolak penambangan semen. Film ini diperbincangkan banyak pihak karena mencuatnya perlawanan heroik ibu-ibu di desa Tegaldowo dan Timbrangan dalam melawan nafsu serakah PT Semen Indonesia yang akan membangun pabrik semen di Kec. Gunem, Rembang.

Komunitas anak muda Just Library mengadakan pemutaran dan diskusi film pada Senin, 16 Maret 2016. Peserta yang hadir dalam pemutaran film berasal dari berbagai komunitas anak muda Cirebon. Akibatnya, ruangan tak seberapa luas itu disesaki peserta yang antusias menonton film dari awal hingga akhir.

Tak ingin sawah digantikan dengan pertambangan semen, Sedulur Sikep melakukan gerakan perlawanan terhadap korporasi. Nilai kearifan lokal menjadi satu modal paradigma yang mengakar dalam masyarakat untuk menyadari petingnya menjaga tanah dan air.

Gerakan perlawanan Sedulur Sikep terhadap perusahaan semen merupakan satu di antara banyak konflik SDA yang terjadi di Indonesia. Isomudden, yang biasa disapa Isom, pegiat di SOFI Institute memantik diskusi dengan memaparkan beberapa data. Menurut catatan HuMa tahun 2013, konflik SDA yang terjadi di Indonesia ada 278 kasus, dan pelaku terbesarnya adalah korporasi. Pelaku yang didominasi oleh korporasi ini berselingkuh dengan negara sebagai duet pelaku dalam konflik SDA. Kepentingan terbesar dalam konflik SDA adalah kepentingan bisnis yang mencapai 87% (negara dan korporasi). Namun pihak yang selalu dikambinghitamkan dalam konflik-konflik SDA justru warga atau masyarakat yang menuntut hak pengelolaan atas tanah dan sumberdaya alam yang sejatinya merupakan warisan nenek moyang mereka.

Pemetaan sumber terjadinya konflik SDA menjadi satu topik pembahasan dalam diskusi. Peniadaan masyarakat dalam proses perencanaan eksploitasi sumber daya alam ditengarai menjadi sumber awal dari munculnya konflik. Padahal, ada beberapa aturan yang menerangkan bahwa masyarakat harus dilibatkan dalam proses rencana eksplotasi.

Dalam aturan Internasioal dikenal dengan prinsip FPIC (Free, Prior, Informed, Consent), sedangkan di aturan nasional ada putusan Mahkamah Konstitusi tahun 2012 tentang penghormatan hak masyarakat adat atas wilayahnya. “Namun aturan-aturan itu layaknya barang rongsok yang tidak pernah diterapkan oleh orang yang memiliki libido kepentingan,” tandas Isom.

Zakky, salah satu organisator gerakan Save Ciremai dan menjadi pemantik diskusi kedua, menarik pembahasan pada penyikapan isu-isu SDA yang ada di sekitar. Gerakan perlawanan masyarakat terhadap korporasi dalam menjaga alam perlu dijadikan sebagai mainstreaming gerakan. Zakky mengingatkan, dalih pembangunan juga beresiko menciptakan kerusakan alam. “Jadi, diperlukan jenis perlawanan baru”, ungkapnya.

Menyambung argumen Zakky, Isom menambahkan bahwa fenomena munculnya gerakan perlawanan masyarakat dengan memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal yang diperankan oleh Sedulur Sikep adalah satu bentuk mosi ketidakpercayaan terhadap negara. “Karena itu, perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat lokal harusnya menjadi tamparan bagi kaum muda dalam merespon permasalahan-permasalahan yang ada di sekitarnya”, jelas Isom.

Merasa tersindir karena menyinggung pemuda, Reza, salah satu peserta memiliki argumen tersendiri, menurutnya, “Humanisme anak muda terlihat merosot ketika memandang permasalahan di luar lingkungan yang bukan menjadi bagian darinya”. Entah apa yang menyebabkan demikian, yang pasti hal tersebut mengakibatkan lemahnya hubungan berjejaring atau sedikitnya kontak kaum muda dengan gerakan rakyat.

Menimpali diskusi yang kian menghangat, peserta diskusi yang lain, Alam, berargumen bahwa, “Anak muda yang kerap dilabeli dengan nama mahasiswa gagap merespon permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat karena terlalu sibuk mencari bentuk ideologi nir-realitas. Padahal tidak menutup kemungkinan realitas adalah bentuk ideologi sebenarnya”.

Belajar dari film dan diskusi itu, kita patut mempertanyakan diri kita sebagai anak muda yang seringkali mengklaim bahwa kita adalah ujung tombak perubahan sosial pada riak-riak orasi dan diskusi. Jika kita seperti itu mungkin patut kiranya ketika mendengarkan petuah Althusser “ideologi hanya memiliki kaitan langsung dengan kesadaran, namun ia meresap jauh dalam alam bawah sadar kita” sebagai penutup diskusi hari ini, papar Rizal sebagai moderator. Resapan ideologi ke dalam alam bawah sadar kita itulah yang justru membuat setiap gerak dan pikiran kita menjadi kritis. Gerak dan pikiran kritis terhadap isu-isu konkret dalam masyarakat inilah yang mestinya menjadi spirit kaum muda dan mahasiswa. (IZM)