25 Desember 2016

Oleh: Ikun Sri Kuncoro

di kendeng, Yesus datang di antara tenda ibu-ibu yang bersholawat
sepi berkecamuk di situ
tak ada ulama
hanya angin bebukit kapur yang kersang ditingkap petang

Yesus tunduk ketika selembar ayat terpelanting dari gumam:
“YaTuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, yaTuhanku.”

Yesus seperti mendengar lagi suara pamannya; Zakaria.

Dan …
Wajah doa itu … Betapa lelah dan pasrah …

Yesus terkenang ibunya. Maria. Ketika pulang. Ketika menggendongnya. Ketika orang-orang kampung datang dan menudingkan tuduhan.

Maria, ibunya: lelah dan juga pasrah. Menunjuknya.Meminta jawab.

Mata-mata nanar. Ada yang melantang: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?”

“Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.”

Di Kendeng, Panjer Sore mengambang serupa kembang. Melampaui nabi. Melampaui rasul. Melampaui gereja dan masjid-masjid.

—————–
doa Zakaria dikutip dari Al Quran, Surat Maryam ayat 4.
pertanyaan orang dikutp dari Al Quran, Surat Maryam ayat 29
pernyataan Yesus dikutip dari Al Quran, Surat Maryam ayat 30-31