Doa Mengusir Pabrik Semen

oleh: HENDRA TRY ARDIANTO

“Hampir 500 hari warga tinggal di tenda darurat demi menolak pendirian pabrik semen, namun pemerintah tak bergeming”

MALAM satu Suro adalah malam yang dikeramatkan bagi sebagian orang. Bahkan, beberapa kalangan percaya bahwa di malam tersebut adalah waktu yang paling tepat untuk memanjatkan doa agar dikabulkan Tuhan. Persis dalam nalar semacam itu, malam tadi (15 Oktober 2015) tepatnya pukul 19.30 WIB, seratusan orang dari tiga desa, yakni Desa Tegaldowo, Timbrangan, dan Suntri menggelar acara doa bersama mengusir pabrik semen. Jangan bayangkan ini seperti ritual mengusir hantu, tetapi ini adalah rutinitas yang biasa mereka kerjakan bertahun-tahun lamanya demi mengusir pabrik semen dari Bumi Rembang.

Tenda perjuangan –demikian mereka menyebut–, dua minggu lagi akan genap berusia 500 hari, sebuah waktu yang panjang yang menandai kebutaan dan ketulian Negara atas suara rakyatnya sendiri. Kenyataan itu terlihat dari penyataan Sukinah, salah satu ibu-ibu penolak tambang semen, “Kepercayaan kami sekarang tinggal pada Tuhan, pada pemerintah (red. pusat maupun daerah) tampaknya sudah berat. Semua usaha sudah kami tempuh, tak ada yang direspon, jadi ya tinggal doa, doa dan doa saja”. Dan memang, di beberapa desa ini gema doa-doa sering kali berkumandang. Setiap hari kamis (malam Jum’at) misalkan, di desa-desa tersebut selalu ada kegiatan mulai dari sholawatan, manaqiban hingga kenduren. Sebagian besar acara-acara ini memiliki relasi dengan penolakan pabrik semen yang sedang didirikan di daerah tersebut.

Tepat di Malam satu Suro itulah, mereka berkumpul di Gunung Bokong Desa Kadiwono, Rembang, melakukan istighosah agar pabrik semen bisa pergi dari tanah mereka. Ustadz Khamid asal Desa Timbrangan, selaku pemimpin doa mengawali acara dengan beberapa sambutan. “Dulu kita diperjuangkan para tetua untuk mendapatkan tanah dan air sehingga menjadi milik kita sekarang, itu artinya kita wajib mempertahankan. Dan mempertahankan ini, pabrik semen harus angkat kaki”, demikian ‘kyai rakyat’ ini mengawali acara doa bersamanya.

Seratusan orang, dari bapak-bapak, ibu-ibu, baik tua-muda, bahkan beberapa anak kecil, tampak melakukan doa dan wirid secara khidmat. Bagi yang percaya pada Tuhan, doa-doa mereka inilah yang sangat mustajab (manjur). Sebab, Tuhan akan mengabulkan doa orang-orang tertindas. Tak ada yang tahu persis apa isi doa dan pengharapan orang-orang ini. Namun, Paciati (26 tahun) asal Desa Timbrangan mengutarakan pengharapannya, “Semoga orang ‘Tolak’ diberi kemenangan, pabrik semen tidak jadi di Rembang, dan semoga ibu-ibu diberi kekuatan untuk terus berjuang”.

Setelah melakukan acara doa secara khidmat –sebuah doa mengusir pabrik semen–, mereka melanjutkan perjalanan menuju petilasan “Mbah Demang Waru” –sebuah makam tua yang sejak dulu dikeramatkan orang-orang desa. Kemudian tepat pukul 22.00 WIB, sebagian orang kembali ke rumahnya dan sebagian lagi menginap di tenda perjuangan, sembari mengharapkan Tuhan Yang Maha Kuasa akan turun tangan membantu perjuangan mereka. Entah dengan cara apa, hanya Tuhan yang tahu, demikian mereka mempercayai