Expedisi Miring

keragaman indonesia

Oleh: Lie Jelivan Tuan Kopong

 Ziarah Bathin seorang Katolik di lingkaran NU Makin berbeda kita, makin jelas di mana titik-titik persatuan kita (Gus Dur). Kata-kata bijak Gus Dur inilah yang menuntun langkahku untuk hadir di tengah keberagaman yang mempersatukan saya dengan teman-teman dari Front Nahdliyin di Terbuireng-Jombang dari tanggal 06-09 Desember 2013. Di titik inilah aku menemukan bahwa saya dan para sahabatku dari Front Nahdliyin memang berbeda, namun persoalan lingkungan hidup dan sumber daya alam yang semakin rusak parah dan mengorbankan masyarakat banyak mempersatukan kami dalam keberagaman. Mewartakan Kristus: Berkat yang Mempersatukan Hanya saya dan seorang OMK yang menemaniku hadir di tengah para sahabat Nahdliyin yang berjumlah sekitar 70 an. Ada perasaan canggung. Itu wajar, lantaran kehadiranku di tengah para sahabatku yang secara agama dan iman kami berbeda. Ada keraguan dan ketakutan, apakah kehadiranku diterima atau ditolak atas nama perbedaan. Perasaan canggung, ragu dan takut akhirnya bisa teratasi, ada kedamaian dan sukacita, ada kegembiraan dan kebersamaan dalam perbedaan, ketika pada tanggal 07 Desember 2013, sekitar pkl. 10.30 Wib, saya diminta untuk memimpin doa secara Katolik bagi pertemuan Front Nahdliyin untuk Kedaulatan SDA (FNKSDA). Romo Yohanes, tolong memimpin doa secara Katolik agar berkat melimpah atas pertemuan ini dan juga melimpah dalam diri para anggota Front Nahdliyin di tempat ini, demikian permintaan Sahabatku Gus Ansori selaku fasilitator pertemuan (Halaqoh) FNKSDA 07-08 Desember 2013 di Universitas Wahid Hasyim (UNHASY) Tebuireng-Jombang. Peristiwa iman dengan memimpin doa dihadapan umat Islam yang secara agama, ajaran dan iman sangat berbeda dengan saya, ini merupakan pengalaman pertama dalam perjalanan hidupku sekaligus dalam ziarah membangun dialok dengan umat beragama dan berkeyakinan lain. Peristiwa ini juga bagiku merupakan moment penting dalam jejak pewartaanku untuk mewartakan Kristus sekaligus menghadirkanNya, maka permintaan ini langsung kuiyakan dengan senang hati tanpa diskusi panjang. Bahkan yang paling menggembirakan sekaligus dukungan buat saya adalah penerimaan para sahabatku Front Nahdliyin yang dengan senang hati-terungkap lewat tepuk tangan para sahabat Nahdliyin-menyetujui saya untuk memimpin doa pembuka Halaqoh FNKSDA. Sebuah keterbukaan yang kualami yang tidak hanya mengiyakan tetapi juga nampak dalam kekhusukan mereka mengikuti doa yang kupimpin. Keterbukaan dan penerimaan semakin kualami, ketika aku diberi kesempatan dan waktu untuk memberikan sharing sedikit soal perjuangan bersama teman-teman Gerakan Samarinda Menggugat dan memaparkan sedikit perjuangan lingkungan hidup dan sumber daya alam yang semakin rusak dari perspektif Katolik, meski aku tahu di dalam agamaku sendiri juga masih banyak sisi-sisi lemah dan gelapnya, meski tokoh agama Katolik sekalipun masih banyak yang hanya pandai berkotbah namun lambat bahkan tidak sama sekali dalam bertindak untuk memperjuangan kedaulatan SDA dan keutuhan lingkungan hidup. Pengalaman menarik sekaligus memberikan pelajaran berharga buat saya adalah, keberanian kaum Nahdliyin (Kaum Muda NU) yang sekaligus umat memberikan kritikan terhadap PBNU, PWNU, PCNU serta Ansor dan ISNU yang tidak peduli pada masyarakat yang menjadi korban penguasa dan kaum kapitalis yang mengeruk SDA dan merusak lingkungan hidup sekitarnya, bahkan ada oknum pengurus PWNU, PCNU serta Ansor yang menjadi aktor dan pendukung penguasa, TNI, POLISI serta Kapitalis untuk melakukan tindak kekerasan kepada masyarakat yang menolak kehadiran pertambangan sebagaimana yang dialami oleh masyarakat Urut Sewu-Kebumen, Kuningan-Tuban, Banyuwangi, dan lainnya. Rekomendasi tajampun ditunjukan kepada PBNU, PCNU, PWNU, Ansor NU dan ISNU bahkan seruan pertobatan massal kepada PBNU, PCNU, PWNU, Ansor NU dan ISNU pun diserukan. Di sisi lain, nampak keberanian masyarakat dan tokoh agama untuk melawan seperti Kyai Imam Sudji yang mengalami pemulukan dari aparat TNI karena berpihak pada masyarakat Urut Sewu yang menolak kehadiran pertambangan, Pak Seniman yang mengalami penembakan oleh aparat TNI karena memperjuangkan kedaulatan SDA dan keutuhan lingkungan hidup di wilayah Urut Sewu. Dari pengalaman ini, saya malu karena di dalam agamaku sendiri masih banyak umat yang takut apalagi membuat rekomendasi untuk memberikan kritikan kepada tokoh agamanya atau KWI. Bahkan beberapa pastor menjadi kaki tangan penguasa dan pengusaha untuk merusak kedaulatan SDA dan keutuhan ciptaan. Saya malu, bukan karena saya lebih baik, tapi karena tidak mampu mengajak umatku yang hanya prihatin dan berhenti pada doa menatap kerusakan SDA dan keutuhan ciptaan serta seakan bangga pada masyarakat kecil yang menjadi korban. Aku malu, karena aku dan umatku juga beberapa rekanku tidak memiliki keberanian untuk mengkritik dan melawan pimpinan agamaku sendiri yang sepertinya cuek dan senang melihat kerusakan SDA dan keutuhan ciptaan seraya menutup mata terhadap duka masyarakat. Awal pertemuan, bagiku adalah berkat yang menyatukan kami meski berbeda. Di titik inilah rasa persatuan semakin nyata untuk bersama berjuang mempertahankan kedaulatan SDA dan keutuhan ciptaan, seraya mengevaluasi diri sambil bertanya;DIMANAKAH IMAMKU, KEMANAKAH UMATKU? Buta dan tulikah hati ini menatap hancurnya lingkungan, buta dan tulikah jiwa ini mendengar duka nestapa masyarakat? Aku lebih suka Gereja yang lecet, luka dan kotor karena turun ke jalan-jalan, bukan Gereja yang pandai berdoa dan prihatin namun mencari rasa aman dan nyaman sendiri. KITA HANYA MAMPU MEWARTAKAN KRISTUS, KALAU KEHADIRAN KITA MENJADI BERKAT YANG MEMPERSATUKAN UNTUK BERJUANG MELAWAN SIAPAPUN TERMASUK TOKOH AGAMA SEKALIPUN YANG TIDAK BERPIHAK PADA MASYARAKAT KECIL DAN YANG TIDAK BERJUANG UNTUK KEDAULATAN SDA DAN KEUTUHAN CIPTAAN. Bersambung…… Mewartakan Kristus bukan sekedar Kata, TAPI Tindakan Nyata Tebuireng, “surga” keberagaman: 07-08 Desember 2013 Lie Jelivan msf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *