Mahasiswa dalam Pusaran Penggusuran dan Krisis Ekologis

FrontAnak-anak muda itu duduk di bangku kuliah, namun tak congkak dengan gelar kemahasiswaannya. Mereka benar-benar menjadi relawan keadilan dengan belajar dan bekerja bersama bersama masyarakat Kulon Progo dalam mempertahankan hak atas ruang hidupnya dari penggusuran proyek infrastruktur New Yogyakarta Airport. Mereka menjadi bukti, bahwa hari ini masih ada harapan kiprah mahasiswa dalam pusaran ekspansi neoliberalisme di Indonesia ini, yang mana negara menjadi kepanjangan tangan akumulasi keuntungan tak terhingga bagi segelintir orang saja. Bukan hanya di Kulon Progo, kiprah mahasiswa masih terlihat di mana-mana, meski bukan mayoritas.

Di tempat lain, anak-anak muda itu masuk, bukan sekedar blusukan basa-basi ke kedalaman ruang hidup rakyat di kampung-kampung. Mereka berbaur, bekerja bersama masyarakat lapisan terbawah dan membuka nurani kemanusiaannya kemudian mencatat dan menelusuri jejak-jejak krisis ekologis yang semakin mendalam setiap harinya. Mereka mengembalikan tuturan yang sempat terlupakan, meruntuhkan anggapan “universitas sebagai satu-satunya penentu keabsahan sebuah ilmu pengetahuan”. Mereka belajar bersama masyarakat untuk menemukan jejak-jejak krisis ekologis yang telah berlangsung sejak lebih tiga puluh tahun yang lalu.

Namun tak dipungkiri, mereka hanya sedikit dari sekian juta peserta universitas-unsiversitas yang ada di atas kepulauan Nusantara ini. Lebih banyak dari mereka adalah mahasiswa yang mendambakan kenaikan kelas dari selembar ijazah atau dengan memanfaatkan bangunan relasi dengan senior-seniornya. Atau mahasiswa yang mendambakan pekerjaan ringan sebagai borjuis kecil yang memunggungi nasib rakyat tertindas di wilayahnya. Atau mahasiswa yang sibuk dengan memperjuangkan identitas diri dan organisasinya, mengejar popularitas terbawa arus permintaan pasar. Faktanya, bagian kecil saja mahasiswa yang mau berfikir dan bergerak bersama barisan rakyat sebagai relawan keadilan dan kemanusiaan.

Dalam situasi di mana penggusuran telah dilakulan atas nama pertumbuhan dan kesejahteraan, juga pemburukan ekologis yang semakin melebar setiap harinya dalam kerangka finansialisasi segalanya, bagaimana agenda gerakan anak-anak muda dan mahasiwa mesti dibangun? Di samping problem intern masyarakat universitas dan kesadaran mahasiswa sendiri yang tak kalah bermasalah? Universitas dan organisasi mahasiswa hari ini seolah-olah menjadi ajang perlombaan memunggungi massa rakyat, juga mengerdilkannya sebagai wadah pengunduhan proyek-proyek atas nama pengembangan mutu akademik dan pemberdayaan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *