Muhayat: Demokrasi Indonesia bukan lagi untuk Rakyat

Pak Muhayat sedang menjelaskan peristiwa perampasan tanah di Surokonto Wetan.
Pak Muhayat sedang menjelaskan peristiwa perampasan tanah di Surokonto Wetan.

Probolinggo: Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) dan Komunitas Mella’ Ate Probolinggo mengadakan aksi solidaritas untuk petani Surokonto Wetan Kendal Jawa Tengah lewat diskusi dengan tema ‘Perhutani dalam Konflik Agraria di Surokonto Wetan’ Senin 12/06/2017.

Perhutani sering terlibat konflik dengan masyarakat seperti tahun 2015 silam. Ketika itu ibu Asyani di Situbondo divonis bersalah oleh hakim lantaran diduga mencuri dua batang kayu pohon jati milik Perhutani. Ini membuktikan bahwa hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Saat ini perampasan lahan oleh Perhutani sedang menimpa Rakyat Surokonto Wetan

Menyikapi hal tersebut Muhammad Al-Fayyadl, sebagai Komite Nasional FNKSDA yang tampil sebagai salah seorang pemantik diskusi, menyebutkan bahwa hukum yang ada di Indonesia merupakan warisan kolonial kepada militer hingga dalam perkembangannya lebih memihak untuk kepentingan koorporasi seperti PT. Semen Indonesia (SI) atau juga Perhutani. Dimana kedua kasus ini saling berkaitan karena tanah di Surokonto Wetan akan dipakai sebagai ganti terhadap tanah Perhutani di Rembang yang (akan) dipakai sebagai area untuk PT SI.

“Jadi lahan PT. SI  adalah lahan perhutani yang ditukar-gulingkan ke Surokonto Wetan, ini berarti tidak ada kasus perkasus yang tidak terkait. Nah kalau struktur hukum keagrariaan seperti ini, demokrasi tidak akan benar-benar dirasakan oleh rakyat” tambah Fayyadl.

Muhayyat salah satu petani sesepuh Surokonto Wetan berharap adanya perbaikan hukum untuk negara Indonesia dan beliau menilai bahwa demokrasi di Indonesia saat ini bukan lagi berpihak kepada kepentingan rakyat, akan tetapi untuk kepentingan para kaum kapital

“Mudah-mudahan perubahan hukum di Indonesia semakin baik lagi, supaya apa yang menjadi tuduhan [terhadap] ketiga petani Surokonto Wetan yang mengalami kriminalisasi agar menjadi suatu cambuk bagi generasi kita di negeri ini. Bahwa petani itu adalah pejuang yang menghidupi bangsa ini,” ucap Muhayyat saat berkunjung ke Probolinggo

Sebagai perwakilan Perkumpulan Petani Surokonto Wetan (PPSW), Muhayyat menyampaikan ucapan terimakasih kepada sahabat-sahabat pejuang rakyat atas kepedulian serta dukungan solidaritas untuk daerahnya yang sedang carut-marut akibat ulah keserakahan Perhutani yang merampas lahan milik rakyat Surokonto Wetan

“Dukungan sahabat-sahabat merupakan motivasi buat organisasi kami PPSW untuk lebih semangat dalam berjuang melawan kedzaliman terhadap kaum petani yang ada di negeri ini,” tambahnya.

ACH. YANI