Politik Teror, Pelarangan Diskusi, dan Pelabelan di Dunia Aktivisme Jember

Sejak kami mengambil sikap untuk mendampingi petani Berem Semberejo yang akan diserobot lahannya oleh PT. Seafer Kartika Tambak dan PT. Seafer Sumber Rejeki terhitung sejak Oktober 2017 lalu, maka kurang lebih 6 bulan sudah kami mengalami teror yang datang dalam rupa beragam.

Semuanya dimulai dari surat yang dilayangkan oleh oknum salah satu LSM pro tambak udang. Surat tersebut langsung diantarkan pada alamat sekretariat kami di jalan Semeru Gang Bukit Indah No. 8 Jember. Surat tersebut berisi permohonan pemberhentian pendampingan kami terhadap petani Berem dan surat permohonan bantuan pengawalan percepatan proyek terhadap Kapolres Jember.

Tentu saat itu fikiran kita was-was, karena anasir-anasir pro perampasan lahan berem telah tahu persis dimana tempat kami tinggal.

Pasca pengiriman surat tersebut, kami sepakat untuk tetap mendampingi proses penyelesaian sengketa Berem dengan melakukan dua kali aksi demonstrasi bersama dengan petani setempat. Selama dua kali melakukan aksi demonstrasi, kami gagal menemui bupati dengan sekian alasan yang disampaikan oleh jajaran pegawai Pemkab Jember.

Kekhawatiran yang kami rasakan pasca pengiriman surat oleh oknum LSM pro tambak udang tersebut ternyata benar-benar terjadi. Sekretariat kami beberapa kali dibobol oleh maling dan kami yakin pencurian ini bermotif politik.

Total kami kehilangan enam handphone dan satu laptop. Handphone yang diambil oleh pencuri tersebut bukanlah handphone milik anggota biasa melainkan milik penggerak-penggerak inti dari proses pendampingan petani Berem Semberejo, dan pada satu laptop yang hilang itulah data-data pendampingan kami kumpulkan menjadi satu untuk bertarung dengan nafas panjang melawan PT. Seafer Sumber Rejeki.

Kami semakin terpukul dengan politik pecah belah yang digunakan oleh operator PT. Seafer Sumber Rejeki dengan merekrut beberapa individu yang pernah berproses  di organisasi kami untuk menjadi bagian dari tim inti mereka. Seafer Sumber Rejeki tentu merasa berada di atas angin dengan berhasil merekrut beberapa oknum tersebut. Setidaknya mereka memiliki klaim terhadap masyarakat semberejo bahwa kekuatan kami tidak solid. Belum lagi rasa percaya diri mereka yang semakin meningkat dengan bergabungnya oknum ini ke kelompok mereka. Mereka sudah dapat kiranya membaca dua-tiga langkah advokasi kami ke depan.

Tetapi manuver PT. Seafer Sumber Rejeki ini kami respon cepat dengan mengadakan konsolidasi kekuatan secara menyeluruh di masing-masing kantong kampus-kampus tempat organisasi kami berada. Dan sampai kapanpun kami berkomitmen habis-habisan atas kemenangan petani dalam memperjuangkan lahannya.

Sekitar dua minggu yang lalu, sahabat-sahabat kami berinisiatif untuk mengadakan diskusi publik dengan mendatangkan salah satu penyair dari Yogyakarta. Diskusi publik dengan tema “sastra dan politik” ini disepakati dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi pertama akan dilangsungkan di gedung Kauje Universitas Jember dan sesi kedua akan berlangsung di auditorium akultas Ilmu Budaya Universitas Jember.

Tetapi tadi malam, tepat beberapa jam sebelum diskusi publik diadakan dan pemateri baru saja sampai di Jember, secara sepihak Dekanat Fakultas Ilmu Budaya membatalkan sesi diskusi di auditorium FIB, dengan keterangan adanya tekanan dari beberapa pihak eksternal kampus, intelijen (entah TNI atau Polri), dan beberapa civitas akademik Unej.

Bagaimana kampus yang seharusnya melindungi kebebasan mimbar akademik dan kontestasi wacana, dengan begitu mudahnya mengiyakan tekanan-tekanan pihak eksternal.

Ini bukan sekali-duakali saja terjadi di universitas Jember. Sebelum peristiwa pembatalan sepihak diskusi “sastra dan politik”, pernah diambil keputusan serupa dalam diskusi kritik sastra yang diadakan oleh Matatimoer Institute dan peluncuran Majalah Niskala UKM  Kesenian Pusat Unej.

Universitas Jember benar-benar layak diganjar rapor merah dalam kewajibannya menjaga kebebasan kerja-kerja intelektual yang dijalankan mahasiswanya.

Peristiwa pembatalan diskusi ini berbarengan dengan beredarnya screenshot status facebook sahabat kami, dimana dalam gambar yang diedarkan tersebut ia mengumumkan akan mengadakan kegiatan malam puisi persembahan untuk “Partai Komunis Indonesia”. Setelah dilacak dan diklarifikasi, ternyata akun facebook tersebut bukanlah akun resmi yang selama ini ia gunakan dalam berkomunikasi dan berjejaring. Melainkan akun lama yang terakhir ia gunakan tahun 2014. Akun itu diretas dan dipenuhi dengan logo partai terlarang tersebut, juga biodata diganti sesuai dengan kepentingan pihak peretas.

Keterangan panjang di atas bukanlah upaya kami untuk mencari pembenaran atas peristiwa terakhir yang sejak semalam menciptakan kegaduhan bagi beberapa pihak. Kami haqqul yakin bahwa upaya labelling ini adalah satu rangkaian dari serangkaian kezaliman yang telah dialamatkan kepada kami sejak beberapa bulan terakhir.

Betapapun besar beban yang kami tanggung, kami harap saling pengertiannya. Jika tak bisa membantu dalam upaya kerja-kerja pendampingan yang sedang dan telah kami kerjakan selama ini, berhentilah menjadi sampah organisasi dan menggunting dalam lipatan.

Penulis: Adil Satria Putra (FNKSDA Jember)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *