Aksi Menyambut Kemerdekaan oleh Petani Wasile, “Tutup dan Usir PT. Mahakarya Hutan Indonesia”

*Liputan FNKSDA Ternate

img 20190816 wa0039

KSPPW (Komite Soldaritas Perjuangan untuk Petani Wasile) dan FPPMW (Front Petani, Pemuda dan Mahasiswa Wasile) menggelar aksi parade dan kampanye penolakan PT MHI di HUT Indonesia Ke-74 dengan mengangkat tema besar, “Selamatkan masyarakat wasile tengah, utara dan timur dari krisis air bersih dan ruang hidup yang layak.”

Pada hari Jumat tanggal 16 agustus, KSPPW bersama FPPMW memperingati HUT RI ke-74 dengan melakukan aksi parade dan kampanye penolakan PT. MHI (Mahakarya Hutan Indonesia) yang telah merampas lahan petani seluas kurang lebih 36.860 hektar dengan kontrak selama 45 tahun. Wilayah yang dikuasai oleh PT. MHI mencakup tiga kecamatan yakni, kecamatan Wasile Utara, Wasile Tengah dan Wasile Timur yang terdiri dari 24 Desa.

Aksi Parade dan kampanye penolakan terhadap PT MHI tersebut dimulai pada pukul 09.00 WIT sampai selesai dengan bertempat di lokasi peringatan HUT Indonesia ke-74 yakni kantor camat Wasile Tengah, desa Lolobata, kabupaten Halmahera Timur, provinsi Maluku Utara.

Kehadiran PT. Mahakarya hutan Indonesia di wilayah Wasile akan berdampak pada hilangnya sumber mata air bagi warga (krisis air), dikarenakan sumber air yang menghidupkan warga Wasile bersumber dari daerah pegunungan yang masuk pada wilayah konsesi IUPHHK-HA PT. MHI. Selain itu juga, klaim sepihak PT. MHI terhadap pengusaan hutan sebesar 36.860 hektar membuat Petani Desa Helaitetor merasa terintimidasi. Karena setiap hari nya, saat para petani akan pergi ke kebun harus wajib lapor di pos penjataan perusahan PT. MHI. Sejak kehadiran PT. MHI, menurut penuturan warga Helaitetor, mereka merasa tidak nyaman harus lapor ketika melewati rumahnya sendiri. Sejak perusahaan datang semuanya berubah, terutama kekhawatiran akan hilangnya akses pertanian petani.

Bila pergi pagi dan pulang sore harus lapor, sehingga petani itu merasa tak nyaman dan terintimidasi, dulu tidak seperti itu. Kita sudah merdeka lama, tapi kok petani tidak merdeka.” Pungkas salah satu petani Helaitetor.

Karena kondisi itulah KSPPW dan FPPMW dalam agenda HUT Indonesia Ke-74, menegaskan kepada pemerintah kecamatan agar mengambil sikap bersama warga untuk berjuang mempertahankan tanah dan air dari kejahatan PT. MHI. Sebab apabila PT. MHI tetap beroperasi tentu akan merugikan warga desa, khususnya petani.

Selain itu kami masyarakat Wasile di tiga kecamatan tersebut akan mengalami krisis air bersih, tak bisa bertani dan kualitas ruang hidup semakin menurun, kalau air, tanah so tarda tong mo tingal dan hidup di mana lagi. Jadi tutup PT. MHI adalah solusi terbaik untuk memberikan kesejahteraan terhadap seluruh rakyat wasile.” Cetus salah satu pemuda yang tergabung dalam FPPMW.

Situasi tersebut hanya sebagian kecil gambaran mengenai kondisi ‘kemerdekaan’ kini. Apalah arti rakyat Wasile saat memperingati HUT RI ke- 74 tahun, sementara kami tidak berdaulat atas tanah dan air kami. “Bukan sebagai warga negara kalau tidak berdaulat atas tanah dan air,” untuk menegakkan kemerdekaan sejati agar petani Wasile dapat berdaulat atas tanah dan air kami.

Di hari kemerdekaan ini, kami menyatakan maklumat atas sikap kami, yakni:

1. Tutup PT. Mahakarya Hutan Indonesia (MHI), dengan mencabut Izin HPH dan IUPHHK-HA. Dan kembalikan 36.860 hektar hutan dan lahan warga di tiga kecamatan, yaitu Wasile Utara, Timur, dan Tengah, kabupaten Halmahera Timur.

2. Tolak segala bentuk CSR PT. MHI.

3. Ganti rugi tanaman warga yang dihancurkan oleh MHI.

4. Tidak boleh lagi ada intimidasi apapun pada petani yang ingin bercocok tanam. Tidak ada lagi pembatasan akses pada petani yang akan menuju lahannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *