Pernyataan Sikap FNKSDA: “Mengutuk Represifitas Aparatus Keamanan Negara Terhadap Aksi Massa di Peringatan May Day 2019”

img 20190503 wa0029

Assalamualaikum Warrahmatullah

Pada 1 Mei 2019, seluruh rakyat Indonesia terkhusus kaum buruh, tumpah ruah turun ke jalan untuk memperingati hari buruh. Peringatan tersebut merupakan bentuk pengejahwantahan esensi hari buruh itu sendiri. Karena hari buruh bukan sekedar simbol untuk dirayakan atau hanya untuk potong tumpeng saja. Berakar dari sejarahnya yang panjang, hari buruh ditetapkan sebagai suatu monumen peringatan atas kesemena-menaan pemodal dan pemerintah, yang mana terus memeras keringat buruh hingga kering tanpa memberikan hak-hak yang seharusnya didapatkan. Mereka ditindas, diharuskan bekerja terus menerus hingga kehilangan waktu sosial, kesehatan fisik dan psikis terganggu, sampai pada titik didih mereka teralienasi dari konteks sosial politik.

Atas dasar itulah, setiap perayaan hari buruh selalu diwarnai aksi besar-besaran untuk memperjuangkan hak sebagai manusia yang utuh. Namun hal itu tercoreng akibat tindakan represif aparatur keamanan negara, secara beringas mereka melakukan tindakan yang berkontradiksi dengan hak-hak warga negara. Dengan dalih keamanan dan mengamankan, mereka tanpa observasi yang matang langsung menggebuk para peserta aksi hari buruh. Tuduhan-tuduhan tak berdasar menjadi pembenaran atas tindakan represif tersebut. Dan anehnya isu tersebut digoreng dengan framing media mainstream, yang terkesan menyudutkan aksi di hari buruh tersebut.

Di Jogjakarta massa aksi yang tergabung dalam aliansi Komite Aksi May Day untuk Rakyat (KAMRAT) pada pukul 10.30 WIB, mereka dihadang dan direpresi oleh aparatur keamanan negara di Asrama Mahasiswa Papua. Di Makassar, semula aksi berjalan damai dan khidmat dengan orasi dan nyanyian perlawanan. Namun aksi tersebut dirisak oleh beberapa preman, mereka melempari batu ke massa aksi dan mencoba memprovokasi. Tapi massa aksi di Makassar malah direpresi oleh aparatur keamanan, lalu ditangkap tanpa alasan yang jelas. Tercatat ada tiga orang yang “diamankan,” lalu terakhir bertambah menjadi enam orang sebagaimana tercatat di media massa.

Di Surabaya, komite aksi May Day yang beraliansi di Barisan Rakyat Anti Penindasan (BARA API), juga mengalami penghadangan oleh aparatur keamanan negara. Mereka direpresi dengan intimidasi berupa bentakan, pemaksaan pencopotan atribut aksi, hingga tindak kekerasan. Bahkan dua orang dari massa aksi tiba-tiba “diciduk” paksa, tanpa tahu kesalahannya. Pihak aparatur berdalih melakukan pengamanan. Pasca aksi kedua orang tersebut dibebaskan oleh pihak aparatur keamanan negara. Sementara itu di Bandung peserta aksi hari buruh yang tergabung dalam GERAK (Gerakan Rakyat Anti Kapitalisme), dihadang dan direpresi oleh aparatur keamanan negara. Tercatat ada 600 orang digiring ke Polrestabes, mereka diplonco dan diberikan treatment fisik sebagai bentuk pembinaan. Bahkan para pekerja media pun tak luput dari sasaran, mereka juga mengalami tindak kekerasan, serta dihalang-halangi dalam melakukan peliputan.

Tentu hal tersebut merupakan hal yang mencoreng demokrasi, kebebasan bersuara dan berkumpul di muka umum. Tindakan yang dilakukan oleh segenap aparatur keamanan negara yang represif dan brutal, merupakan wujud dari wajah demokrasi kita yang masih belum seutuhnya ditegakkan. Aksi hari buruh atau May Day dianggap sebagai ancaman, serta bentuk tindakan yang akan menganggu stabilitas. Padahal seyogyanya tidak sama sekali.

Dalam Islam pun mengajarkan untuk mengedepankan dialog bukan tindakan represif. Nabi besar Muhammad SAW, pun mengajarkan untuk tidak merampas hak orang lain, tidak melakukan kekerasan terhadap sesama. Hal tersebut juga dilandasi dari firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 33 yang berbunyi:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

Maka tindakan aparatur keamanan negara yang melakukan represifitas baik dalam bentuk intimidasi, kekerasan fisik dan penangkapan semena-mena, merupakan hal yang jauh dari semangat demokrasi, nilai-nilai kemanusiaan dan cita-cita pembebasan Islam. Oleh karena itu kami menyatakan sikap atas tindakan tersebut:

  1. Mengecam dan mengutuk tindakan represifitas aparatur keamanan negara terhadap rakyat yang tengah berserikat, berkumpul dan menyuarakan pendapat di muka umum, sebagai bentuk kontrol terhadap pemerintah.
  2. Mengecam keras perampasan hak bersuara dan berpendapat, hingga hak untuk mengabarkan warta terhadap rakyat. Dengan tindakan menghadang, menghalang-halangi, menangkap dan memplonco segenap rakyat. Baik dari buruh, jurnalis hingga rakyat yang melawan.
  3. Menuntut membebaskan serta memulihkan rakyat yang ditangkap oleh aparatur keamanan negara. Sebagai bentuk tunduk pada konsensus bersama tentang demokrasi yang termaktub dalam UUD RI 1945 dan Pancasila.
  4. Menyerukan persatuan gerakan rakyat ke dalam blok politik kontra oligarki, untuk melawan ketidakadilan dan berbagai upaya yang melanggar demokrasi kerakyatan.

Semoga kita semua selalu dalam lindungan sang khalik Allah SWT dan diberikan kekuatan untuk melawan ketidakdilan yang ada.

Wallahumuwafiq Illa Aqwamith Thariq

Komite Nasional FNKSDA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *