Hari Raya Idulfitri 1440 Hijriyah: Perkuat Solidaritas untuk Mewujudkan Keadilan Sosial untuk Rakyat

Oleh: Biro Media dan Literasi FNKSDA

img 20190604 wa0014

Assalamualaikum Warrahmatullah

Allahhu Akbar!! Allahu Akbar!! Allahu Akbar!! Wallilahilham. Maha besar Allah dan segala puji dilimpahkan kepada-Nya

Hari kemenangan telah tiba, setelah sebelumnya kita sebagai umat muslim menjalankan ibadah puasa ramadan, hampir selama 29 hari atau satu bulan penuh lamanya. Kini tiba kita merayakannya dengan mengumandangkan nama sang khalik, bergemuruh memenuhi ruang-ruang kehidupan. Agar kita senantiasa mengingat-Nya, terenyuh dalam hati, merasuk dalam pikiran, bahwa memang tiada tuhan selain diri-Nya.

Tetapi, untuk mencapai kemenangan ini tidaklah mudah. Harus melalui rintangan yang berat, selama satu bulan penuh kita akan ditantang untuk berpuasa. Tidak sekedar menahan diri dari makan dan minum, tetapi harus benar-benar menahan hawa nafsu serta mulai membangun perilaku yang manfaat. Karena itu, ibadah puasa sangat identik dengan semangat melawan ketidakadilan, kemungkaran dan kerusakan.

Lantas, apakah kita sudah memahami esensi puasa sesungguhnya? Ataukah hanya sebatas menggugurkan kewajiban? Atau malahan hanya sebatas eksistensi saja? Itu dikembalikan kepada diri masing-masing.

Sejatinya berpuasa atau tidak, itu akan terlihat jelas dari perilaku yang kita tampakkan, serta segala aktivitas yang telah kita lakukan. Karena berpuasa itu bukan ibadah yang harus dipamerkan, tetapi harus dijalani dengan niat suci nan tulus, lalu direfleksikan ke dalam tindakan, gerakan dan perilaku kita. Menjauhi ‘maksiat‘ dengan prinsip tasamuh serta i’tidal, yakni mencari ilmu untuk keluasan pikiran, lalu dipraktekkan dalam menegakkan keadilan.

Pada hari kemenangan ini, sudah seharusnya kita merayakannya dengan penuh perenungan, serta aksi langsung melawan segala penindasan yang ada di muka bumi, amar ma’ruf nahi munkar. Melawan orang-orang mufsidin (perusak) yang selalu gemar melakukan kegiatan yang menimbulkan mafsadah (kerusakan), sehingga menghadirkan mudharat untuk rakyat. Mereka adalah kaum yang selalu menindas saudaranya sendiri kaum mustadh’afin. Bahkan tidak hanya saudaranya sendiri yakni sesama manusia, tetapi juga gemar menyakiti hingga memusnahkan makhluk Allah lainnya, seperti hewan dan tumbuhan, lebih luas lagi ekosistem.

Harapan ke depan, semoga kita mampu merefleksikan semuanya dan mulai merenungkannya menjadi aksi nyata. Mulai membangun solidaritas dan berjejaring, baik dari jamiiyah an-nadhliyah, meluas sampai seluruh kaum muslimin, hingga lintas keyakinan. Lalu, meluaskan perjuangan tidak sekedar menyelamatkan lingkungan hidup (jihad bi’ah) tapi juga menyasar perjuangan yang bersifat kerakyatan (jihad ijtimaiyah), hingga melanjutkan perjuangan di bidang ekonomi untuk menyejahterakan rakyat (jihad iqtishodiyah). Tentunya semua upaya tersebut masuk dalam konstruksi perjuangan untuk mencapai kesejahteraan dan kedaulatan rakyat (al masholih ar raiyah).

Maka dengan semangat idulfitri ini, ke depan harus terjalin silaturahim dalam wujud solidaritas luas. Merekatkan apa yang telah tercerai berai, menjadi satu konstruksi perjuangan bersama. Demi terciptanya tatanan yang adil, sebagaimana yang tertuang dalam sila yang ke lima “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Wallahumuwafiq Illa Aqwamith Thariq, Wassalamualaikum Warrahmatullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *