Kegiatan Ekspos Data atau Presentasi Hasil Temuan Lapang Sekolah Riset Agraria Cirebon

12 14 05 51409488 10156401798347620 8845782787345612800 o

Sekolah Riset Agraria (SRA) yang diselenggarakan oleh Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Cirebon, Saung Daulat Amparjati (SDA) Cirebon dan Cultural Study and Philosphy Center (CSPC) Cirebon, sedang dalam tahap belajar lapang selama 7 hari mulai tanggal 1 sampai 7 Februari besok di 6 desa yang tersebar di wilayah Cirebon Timur, Brebes dan Kuningan.

Kegiatan ini diikuti oleh 41 orang dari berbagai wilayah dan Perguruan Tinggi dengan beragam latar belakang pendidikan; Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, Universitas Mercubuana Jogjakarta, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Universitas Yudharta Pasuruan dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon.

Sebagai tahap akhir kegiatan Sekolah Riset Agraria, akan diselenggarakan kegiatan Ekspos Data atau Presentasi Hasil Temuan Lapang yang akan digelar pada :

Hari : Jum’at – Sabtu

Tgl : 8-9 Februari 2019

Pukul : 13.00 s.d. selesai

Tempat : Kampus IAIN Cirebon

Peserta di masing-masing desa melakukan sebuah pemetaan awal sumber-sumber agraria dan bagaimana masyarakat dapat bergantung hidup dari sumber-sumber agrarian setempat. Dengan meta pertanyaan ini, peserta belajar menemukan keragaman situasi menyejarah di lokasi belajarnya masing-masing. Di dua desa Kecipir dan Kalisari masyarakat menggantungkan hidup dari ekonomi yang sepenuhnya komersial yaitu pertanian bawang merah. Di dua desa ini sudah sejak lama warga masyarakat tidak menanam padi. Oleh karena itu masyarakat sangat menggantungkan hidup dari putaran uang yang berlangsung dari rerantai ekonomi komoditas bawang. Penanda perubahannya terjadi pada 1980-an dengan masing-masing memiliki kekhasan peristiwa ketika masuknya modalitas dalam rute sirkulasi komoditas ini.

Sumber ekonomi lain yang dominan di dua desa ini yaitu tambak ikan bandeng pada musim hujan, bergilir dengan tambak garam pada musim kemarau. Selain itu ada perbedaan di dua desa ini. Di Kecipir, ekonomi dominan yang lain yang berlangsung di masyarakat adalah menjadi buruh pabrik Samsung dan Adidas, industri yang melibatkan putaran modal berskala global. Lebih jauh, kedua desa ini sedang dalam ancaman baru ekspansi kapital dalam bentuk rencana pembangunan pelabuhan internasional dan kawasan industri global baru yang akan mengancam alih fungsi lahan skala besar yang secara langsung juga mengancam penggusuran mata pencaharian masyarakat setempat.

Sementara itu sebelah Barat Cirebon, tepatnya Kedung Bunder telah terjadi perubahan yang cukup dalam, terutama sejak masuknya pabrik semen di Palimanan Barat. Perubahan itu terjadi dengan sejarah perubahan mata pencaharian dominan dari petani dan industri kapur ke supir pabrik, perantauan (migran) dan pekerjaan serabutan lainnya. Penyempitan lahan pertanian terjadi dalam kurun waktu sejak 1980-an.

Selanjutnya, di Kuningan, meskipun terdiri dari perkampungan dataran tinggi yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan di Gunung Ciremai, masyarakat di desa-desa lokasi belajar tidak lepas dari intervensi kepentingan ekspansi kapital. Masuknya pemagaran oleh Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) menjadi penanda tonggak penting terjadinya perubahan-perubahan dan pendalaman krisis yang bertubi-tubi berikutnya. Di sini peserta belajar berusaha mempelajari, meski dalam waktu yang sangat singkat bagaimana proses-proses perubahan hubungan masyarakat dengan sumber-sumber agraria serta pendalaman krisis setempat. Di Cibuntu saat ini sedang dalam proses pengembangan desa wisata yang memiliki konsekuensi-konsekuensi tertentu bagi kehidupan masyarakatnya. Misalnya, pendisiplinan berbagai pola pengurusan sumber-sumber agraria serta aspek-aspek sosio-kultural yang mengikutinya melalui skema “desa wisata” ini terlihat sangat vulgar. Sementara itu di Desa Seda sedang dalam situasi menuju proses ini, perencanaan pembentukan desa wisata menjadi wacana yang sudah familiar di kalangan pejabat kepengurusan desa.

Sumber mata pencaharian dominan di ketiga desa ini dari mengolah lahan hutan dan lahan pertanian. Sebut saja di Cibuntu ada 803 Ha, yaitu 80% dari luasan lahan desa sudah ditutup aksesnya oleh TNGC. Penutupan akses ini juga terjadi di Seda dan Cibereum. Di sisa-sisa lahan hutan yang dimiliki rakyat, di Cibuntu dan Seda banyak ditanam durian dan buah-buahan lain. Sementara Cibeureum menjadi penghasil kopi yang cukup signifikan yang sejarahnya dapat ditarik sejak era 1960-an pada masa kebijakan transmigrasi dari Jawa ke Lampung. Sementara itu ketiga desa ini memiliki kesamaan dalam pemenuhan kebutuhan air, dengan bergantung dari sumber-sumber mata air yang terletak di kawasan hutan Gunung Ciremai di Kawasan TNGC. Akan tetapi ketiganya memiliki keragaman dalam sejarah dan sistem pengelolaan air, baik untuk kebutuhan harian rumah tangga dan irigasi pertanian sebagai kebutuhan yang utama bagi masyarakat setempat.

Berbagai cuplikan-cuplikan situasi dan peristiwa yang didiskusikan ini akan diperdalam serta dipertajam oleh peserta belajar dalam sisa waktu live-in di lokasi belajar sebelum tahap selajutnya yaitu perumusan dan presentasi hasil pembelajaran selama di kampung-kampung tersebut. Pembelajaran semacam ini dapat membangun perspektif peserta belajar dalam melihat dan merefleksikan situasi yang dihadapi di kampungnya atau di ruang waktu mana pun berada, sehingga tidak melulu berkutat pada kulakan konsumsi pikiran-pikiran dan wacana tanpa pengetahuan dan pengalaman empirik yang menubuh dan berpihak bersama golongan mustadl’afin (dilemahkan) dalam sirkulasi dan ekspansi kapital serta krisis-krisis sosio-ekologis yang mengikutinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *